top of page

Membuka Pintu Tengah Surga

  • Writer: Danti Irawati
    Danti Irawati
  • Dec 21, 2020
  • 2 min read

Terdengar isak dalam di ujung telepon, setengah tergugu suara dalam itu berkata

"Aku belum bisa membahagiakan ibu mas..."


Arya sahabatku, tak dapat menyembunyikan pedih yang dirasa. Sudah sejak sebulan terakhir kami bertukar kabar via telepon .

Dalam menghadapai badai Pandemi ini, saya tau dia orang yang cukup disiplin dalam menjaga protokol, bermasker, dan menjaga jarak. Arya adalah sosok anak berbakti di mata saya, dia tinggal bersama ibunya yang sudah berusia lanjut, dan dalam kondisi sakit. Dia rawat sendiri ibunya seperti merawat anak kecil, semua ia kerjakan sendiri, mulai dari menyuapi, hingga mengurus kotorannya. Ibunya adalah satu-satunya yang dia punya di dunia ini, sang ayah lebih dahulu berpulang beberapa tahun silam.


Suatu hari, dia menelpon menceritakan tentang kantor tempatnya bekerja menjadi cluster baru wabah covid, hingga mengharuskan terjadi penutupan kantor.

Di saat yang sama, kondisi ibunya memburuk dengan cepat. Saat dibawa ke salah satu rumah sakit, ternyata didapatkan hasil positif covid, hingga diharuskan dirawat di ruang isolasi.


"Mas, aku gak tega lihat kondisi ibu" , seperti ingin menukar yang terjadi dengan apapun yang dia punya.

"Ibu harus diisolasi, nanti siapa yang menyuapi mas?, siapa yang mengambilkan ibu minum?, siapa yang mengurusnya mas?" , dengan lirih dan suara bergetar hebat, dia kembali mengulanginya " Aku belum bisa membahagiakan ibu mas.."


Selang beberapa hari, kabar itupun datang. Sang ibu pergi untuk selamanya, kembali ke pelukan sang Pemilik kehidupan.

Ah, Arya, keikhlasanmu mengingatkanku, bahwa akan ada pintu tengah surga yang dikhususkan bagi mereka yang ikhlas menjaga orangtuanya dengan baik.


........

Pertanyaan kini berkecamuk dalam pikiranku. Bagaimana sang Ibu yang tidak pernah keluar rumah, dapat terpapar penyakit itu, dan yang saya tahu, Arya merupakan lelaki bertanggung jawab yang tak pernah lalai dalam menjalani protokol. Namun apakah sama dengan teman satu kantornya, yang dia temui setiap hari, apakah mereka semua tetap patuh pada protokol paling dasar yaitu bermasker?


Ah, Entahlah.

Memang, semua ini sudah kehendak Sang Maha Kuasa. Namun, bisa saja esok hari,kisah Arya menjadi kisah kita.


Bukankah setiap sikap dan tindakan memiliki takaran balasan ?


ree

Recent Posts

See All

Comments


Post: Blog2_Post

©2020 by pagidanbuku. Proudly created with Wix.com

bottom of page